| BY : Firdausi Nuzula |
Meskipun diteragi oleh sebuah penerangan seadanya saja, kami
merasa bersyukur dan disis lain merasa sedih melihat saudara-saudara dan
kawan-kawan kami yang rumahnya hilang entah kemana terbawa oleh banjir bandang
yang terjadi. Tumah hancur, lumpur dimana-mana, tagisan, kesedihan, serta
beragam luapan emosi (ekpresi) dapat kita lihat. Banyaok orang yang dulunya
mempunyai harta benda, kini semua berkumpul dalam sebuah tenda pengungsian
tanpa membawa apa-apa.
Yang paling menyesak, dan membuat hati tergores, hingga bisa
merasakan bagaimana sebuah keluarga sederhana yang lengkap Ayah, Ibu, dan
Anak-anaknya. Kini mereka hilang entah kemana tidak tahu bagaimana keadaannya,
apakah masih hidup ataupun sudah meninggal. Semua itu menjadi pemikiran selama
berhari-hari dari seorang ibu yang kehilangan keluarganya.
Terkadang kita berpikir bagaimana hal ini bisa terjadi?,
Apakah ini hannya bencana biasa?. Tentunya tidak!, kami merasa semua ini
merupakan sebuah teguran bagi kita manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia
sebagai pemimpin baik itu memimpin diri sendiri, Keluarga, RT, RW, Desa, dan
pemimpin lainnya. Apa yang telah kita sebagai pemimpin telah lakukan sehingga
alam memberikan sebuah teguran yang sangat tengas.
LIHAT JUGA : GUNA MEMBAGUN KEAKRABAN : KPM IAIN LHOKSEUMAWE ADAKAN PERLOMBAAN
Melihat kebiasaan kita sebagai manusia, setiap hari melakukan kerusakan pada tempat yang sangat indah ini. Seperti pembekaran hutan untuk membangun pemukiman atau ladang baru tanpa memikirkan dampak kedepannya, dan membunuh mahluk lain secara gila-gilaan, atas setiap perbuatan kerusakan yang telah kita lakukan. Hal ini sangat berdampak bagi kehidupan kita juga, dikarenakan setiap mahluk yang ada di bumi ini tentunya mempunyai fungsi masing-masing seperti seekor tikus yang memakan padi, ada ular yang memakan tikus, kemudia ular dimakan oleh elang, dan elang saat mati kembali kealam menjadi pupuk untuk tanaman seperti pada.
Semua itu mempunyai fungsi masing-masing apabila kita
sebagai manusia memutus mata rantai symbiosis ini, maka kerusakan yang akan
kita dapatkan. Sama halnya dengan alam yang telah kita rusak dengan menebang
pohon-pohon yang bisa menjadi penghambat tanah lonsor, dan disaat hujan turun
airnya bisa diserap oleh pohon dan mahkluk lainnya. Sama halnya dengan analogi
yang telah kita jelaskan diatas, apa bila salah satunya saja hilang makan akan
rusak yang lainnya.
Mari kita membenahi diri sendiri, apa yang telah kita
lakukan, dan selanjutnya bagaimana kita memperbaiki kesalahan yang telah kita
kalukan.
“Jangan Pernah Saling Menyalahkan, Jangan Jadi Seperti
Lentera Yang Hannya Bisa Melihat Sis Gelap Orang Lain, Tanpa Melihat Sisi Gelap
Yang Telah Dilakukan”
penulis : Firdausi Nuzula (Mahasiswa pasca sarjana UIN SUNA lhokseumawe)


Komentar
Posting Komentar